
Laporan Stand with Crypto UK mencatat lebih dari 10.000 keluhan nasabah terkait pembatasan dan pemblokiran transaksi menuju platform aset digital.
Raksasa perbankan Lloyds, Barclays, NatWest, dan HSBC menerima keluhan terbanyak dari para pemegang rekening di berbagai wilayah Inggris.
Sejumlah lembaga perbankan menerapkan batasan transaksi bulanan yang ketat, sementara sebagian bank memberlakukan larangan total terhadap penyedia jasa kripto.
Parlemen Inggris menyoroti kebijakan pembatasan sepihak ini karena berpotensi merugikan nasabah yang bertransaksi pada bursa berizin resmi FCA.
Konflik operasional perbankan ini mencuat saat regulator tengah mempersiapkan kerangka regulasi komprehensif aset digital menuju implementasi tahun 2027.
Aksesibilitas layanan perbankan konvensional menuju ekosistem aset digital kembali menghadapi tantangan besar di daratan Inggris Raya. Lembaga advokasi Stand with Crypto UK merilis laporan mengenai pembatasan sepihak terhadap instruksi transfer kripto nasabah.
Laporan investigasi tersebut mendokumentasikan 10.092 keluhan resmi dari 9.803 nasabah selama periode Mei hingga Agustus 2026. Nasabah menghadapi kendala besar saat mengirim dana ke platform perdagangan yang terdaftar di Financial Conduct Authority (FCA).
Keluhan publik ini meluas mencakup seluruh 650 daerah pemilihan parlemen di seluruh pelosok wilayah Britania Raya. Empat grup perbankan papan atas bahkan menerima lebih dari seribu keluhan nasabah secara individu.
Pembatasan akses ini memicu keresahan publik yang menuntut kebebasan bertransaksi finansial tanpa intervensi berlebihan. Hambatan pengiriman dana ini membuktikan ketatnya penyaringan perbankan terhadap transaksi transfer kripto domestik.
Baca juga: Ekspansi Pasca Peretasan: Bitget Incar Akuisisi Bursa Kripto di Thailand
Kelompok perbankan terkemuka mencatatkan porsi keluhan terbesar akibat kebijakan penyaringan transaksi yang dinilai terlalu restriktif. Lloyds Banking Group memimpin daftar dengan menerima 2.297 komplain dari nasabah jaringannya.
Barclays menyusul di posisi kedua dengan 1.569 keluhan resmi sepanjang periode pengamatan tersebut. Sementara itu, NatWest Group mencatatkan 1.278 keluhan, disusul oleh raksasa perbankan multinasional HSBC UK.
Data riset menunjukkan bahwa bank yang mempublikasikan batasan kuota transaksi menyumbang 6.198 keluhan nasabah. Sekitar 40% dari total pengiriman dana digital dilaporkan mengalami pemblokiran atau penolakan sistem perbankan.
Meskipun Lloyds dan platform Revolut tidak mengumumkan larangan resmi, nasabah tetap melaporkan kegagalan pengiriman dana. Situasi ini memicu kebingungan bagi pengguna yang ingin memindahkan saldo ke akun bursa terpercaya. Kebijakan internal ini kian mempersempit kelancaran eksekusi proses transfer kripto di pasar lokal.
Lembaga keuangan menerapkan variasi kebijakan pencegahan risiko yang sangat beragam terhadap transaksi aset digital. Barclays dan HSBC menetapkan batas transfer maksimal £2.500 per transaksi serta pagu £10.000 selama 30 hari.
NatWest menerapkan aturan yang jauh lebih ketat dengan membatasi transaksi harian maksimal £1.000 saja. Sementara itu, bank digital Monzo memberlakukan pagu pengeluaran £5.000 untuk akumulasi transaksi selama sebulan penuh.
Di sisi ekstrem, enam penyedia perbankan seperti Chase UK dan Starling Bank memberlakukan pemblokiran penuh. Lembaga tersebut menolak memproses seluruh instruksi pembayaran keluar menuju entitas perdagangan aset digital mana pun.
Pendekatan kaku ini merugikan nasabah ritel yang hendak menyalurkan modal investasi ke platform legal berizin. Kebijakan pembatasan massal dinilai mengabaikan profil risiko masing-masing nasabah yang sah secara hukum. Dampak larangan total ini secara drastis mematikan fleksibilitas jalur transfer kripto bagi masyarakat.
Eskalasi keluhan publik ini menarik perhatian serius para pembuat undang-undang di parlemen Inggris Raya. Komite lintas partai telah memanggil pimpinan perbankan guna mengklarifikasi perlakuan diskriminatif terhadap industri aset digital.
Stand with Crypto mendesak perbankan mengganti larangan kaku dengan sistem pemantauan risiko berbasis perilaku nasabah. Organisasi menekankan bahwa kewajiban pencegahan penipuan finansial tidak semestinya membenarkan pemblokiran industri secara menyeluruh.
General Manager Stand with Crypto Harry Pearce Gould menegaskan bahwa masyarakat menuntut hak menentukan penggunaan uang mereka. Beliau mengingatkan bahwa nasabah hanya ingin menyetor dana ke bursa yang terdaftar resmi di FCA.
Transparansi alasan penolakan transaksi dinilai sangat krusial agar nasabah dapat mengajukan keberatan secara adil. Evaluasi menyeluruh ini menjadi kunci penyelesaian sengketa transaksi transfer kripto antara nasabah dan perbankan.
Baca juga: Inovasi Derivatif Wall Street: BlackRock Ajukan ETF Bitcoin dengan Opsi Proteksi Risiko
Ketegangan operasional perbankan ini bergulir saat otoritas FCA mulai membuka permohonan lisensi rezim regulasi baru. Regulasi aset digital komprehensif Inggris dijadwalkan mulai berlaku efektif pada 25 Oktober 2027 mendatang.
Seluruh penyedia jasa perdagangan wajib mengantongi otorisasi baru sebelum masa transisi berakhir pada awal 2027. Namun, aturan baru tersebut belum mewajibkan bank umum untuk memproses pembayaran ke platform bursa digital.
Fenomena pengetatan perbankan serupa turut melanda pasar keuangan Amerika Serikat melalui isu Operation Chokepoint 2.0. Dokumen regulator AS mengonfirmasi adanya arahan kepada perbankan agar membatasi hubungan komersial dengan pelaku industri.
Kepastian payung hukum terpadu diharapkan mampu menyelaraskan standar kepatuhan perbankan dan kebebasan finansial masyarakat. Harmonisasi ini penting demi mencegah matinya akses masyarakat terhadap fasilitas transfer kripto masa depan. Kejelasan regulasi perbankan akan menjadi fondasi utama dalam menciptakan ekosistem keuangan yang transparan dan inklusif.
Penafian
Informasi di website ini hanya untuk tujuan edukasi dan bukan nasihat keuangan. Investasi crypto memiliki risiko tinggi, dan keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Kami tidak bertanggung jawab atas kerugian yang mungkin timbul. Lakukan riset mandiri dan konsultasikan dengan profesional sebelum berinvestasi.






