
Sebanyak 38 korporasi resmi melayangkan surat keberatan terhadap rencana pencatatan saham digital pada bursa terdesentralisasi OKXICE.
Bursa teknologi Nasdaq membujuk emiten terdaftar agar menolak pencatatan pihak ketiga dan mempromosikan inisiatif tokenisasi internal.
Korporasi multinasional seperti Walmart, Eli Lilly, Carnival, Arcos Dorados, dan Cigna menjadi nama terbaru dalam daftar penolakan.
Aturan pengecualian SEC menetapkan batas waktu keberatan selama 30 hari kalender sebelum izin perdagangan bursa otomatis berlaku.
Canton Strategic Holdings merintis alternatif penerbitan ekuitas digital mandiri tanpa memerlukan mekanisme penolakan publik.
Gelombang perlawanan korporasi Wall Street kian memanas setelah 38 emiten terkemuka resmi menolak pencatatan saham tokenisasi di bursa OKXICE. Situasi ini memicu sorotan tajam menyusul dugaan lobi aktif bursa Nasdaq yang membujuk para emiten menolak platform tersebut.
Laporan jurnalis Jacquelyn Melinek mengungkap seorang petinggi emiten mengaku menerima panggilan telepon dari perwakilan bursa teknologi tersebut. Pihak bursa secara terbuka menyarankan korporasi mengajukan surat keberatan resmi serta menawarkan diskusi mendalam mengenai risiko platform baru.
Dugaan lobi ini mencuat tepat saat konsorsium bursa kripto OKX dan pemilik NYSE bersiap meluncurkan perdagangan terdesentralisasi. Jurnalis Eleanor Terrett melaporkan bahwa manajemen bursa Nasdaq menolak berkomentar langsung perihal tuduhan lobi emiten tersebut. Eskalasi konflik antar-bursa ini membuktikan ketatnya perebutan dominasi pasar likuiditas aset saham tokenisasi di Amerika Serikat.
Baca juga: Outflow ETF Berlanjut: Mengapa Tren Harga Ethereum Turun Menuju $2.300 Hari Ini?
Meskipun menolak berkomentar mengenai dugaan lobi, juru bicara menegaskan keberatan institusi terhadap bursa sekuritas tanpa izin tradisional. Korporasi menyatakan komitmen membangun masa depan aset digital melalui model terpadu bertajuk Nasdaq Equity Token.
Pendekatan ini berfokus pada emiten guna membawa keunggulan teknologi rantai blok ke dalam kerangka regulasi pasar modal resmi. Manajemen bursa menegaskan tidak bermaksud mengoperasikan Tokenized Securities Venue (TSV) di bawah skema pengecualian inovasi SEC.
Sebagai gantinya, bursa teknologi ini berkolaborasi bersama platform Kraken guna merancang model sekuritas baru untuk kuartal kedua 2027. Di tempat terpisah, institusi membantah keterlibatan dalam iklan media cetak Wall Street Journal yang memuat kode pemindai terkait.
Dari total 38 emiten yang resmi menolak, sebanyak 23 perusahaan merupakan emiten yang melantai di bursa Nasdaq. Dominasi emiten bursa teknologi ini memperlihatkan soliditas sikap korporasi dalam membendung ekspansi liar produk saham tokenisasi pihak ketiga.
Daftar penolakan saham tokenisasi melonjak pesat setelah lima korporasi multinasional baru melayangkan surat keberatan resmi. Dokumen keterbukaan mencatat Walmart, Eli Lilly, Carnival, Arcos Dorados, dan Cigna sebagai kelompok emiten terbaru yang menolak.
Angka penolakan membengkak dari 33 perusahaan pada hari sebelumnya menjadi 38 emiten dalam kurun 24 jam saja. Gelombang awal penolakan sebelumnya melibatkan raksasa Alphabet, Microsoft, Intel, AMD, hingga bank investasi JPMorgan Chase dan Goldman Sachs.
Daftar penolakan ini berlipat ganda secara agresif dibanding pengumuman awal pada 15 Oktober yang hanya mencatat sembilan emiten. Rencana awal konsorsium sejatinya membidik 62 korporasi dengan 63 simbol kode saham bursa komersial.
Perwakilan JPMorgan Chase menegaskan bahwa penolakan ini tidak menutup peluang partisipasi bank dalam proyek digital masa depan. Perbankan ingin memastikan perlindungan hak hukum investor sebelum mengizinkan perdagangan aset saham tokenisasi berbasis portofolio saham fisik.
Kerangka hukum inovasi SEC tertanggal 17 September mengizinkan platform memenuhi kualifikasi TSV memperdagangkan saham tanpa izin bursa konvensional. Platform dapat memfasilitasi transaksi melalui permissioned automated market makers dengan kewajiban mengirimkan surat pemberitahuan terlebih dahulu kepada emiten.
Emiten publik memegang tenggat waktu 30 hari kalender sejak penerimaan surat untuk melayangkan surat keberatan tertulis resmi. Pengajuan keberatan tepat waktu secara hukum melarang platform menawarkan lembar ekuitas emiten bersangkutan di bawah skema pengecualian.
Regulator tidak menyediakan mekanisme keberatan susulan bagi emiten yang melewatkan tenggat waktu 30 hari. Akibatnya, emiten yang terlambat merespons tidak dapat menghentikan perdagangan saham digital mereka di bursa pihak ketiga tersebut.
Larangan ini murni mengikat platform tertentu dan tidak menghalangi emiten menerbitkan aset digital secara mandiri di tempat lain. OKXICE berencana memanfaatkan liquidity pools Uniswap v4 pada jaringan X Layer untuk memperdagangkan saham tokenisasi beragun fisik.
Baca juga: Ekspansi Wall Street: Induk NYSE Gandeng Trade.xyz Rintis Bursa Perpetual Futures
Di tengah gelombang penolakan, pendekatan berbeda muncul melalui langkah korporasi investasi terkemuka Canton Strategic Holdings. Perusahaan mengumumkan rencana pencatatan unit ekuitas secara mandiri pada platform TSV LLC menggunakan infrastruktur Canton Network.
Pengumuman pada 29 Oktober 2026 mengonfirmasi bursa mulai membuka perdagangan efektif pada 2 November mendatang. Proses administrasi saham digital ini menggandeng agen transfer resmi Fairmint guna memastikan kepatuhan hukum transaksi.
Karena melibatkan partisipasi langsung emiten, skema penerbitan internal ini tidak memerlukan prosedur penolakan 30 hari. Manajemen memastikan lembar saham digital mempertahankan seluruh hak pemegang saham konvensional termasuk hak suara dan pembagian dividen. Kematangan inisiatif penerbitan mandiri ini menjadi preseden penting dalam mempercepat transformasi pasar saham tokenisasi yang akuntabel.
Penafian
Informasi di website ini hanya untuk tujuan edukasi dan bukan nasihat keuangan. Investasi crypto memiliki risiko tinggi, dan keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Kami tidak bertanggung jawab atas kerugian yang mungkin timbul. Lakukan riset mandiri dan konsultasikan dengan profesional sebelum berinvestasi.






